Apa Itu e-Commerce? Pengertian dan Cara Sukses Memulainya

Apa Itu e-Commerce? Pengertian dan Cara Sukses Memulainya

E-Commerce adalah segala aktivitas terkait transaksi online yang dilakukan melalui internet atau jaringan elektronik lainnya, seperti perbankan online, proses jual beli, hingga penawaran jasa.

Mungkin, selama ini banyak orang yang mengira bahwa eCommerce adalah kegiatan belanja online yang hanya melibatkan aktivitas membeli dan menjual produk fisik atau digital melalui Internet. Padahal, e-Commerce sebenarnya memiliki arti yang lebih luas.

Mau tahu lebih lanjut? Yuk, scroll ke bawah, karena kami akan membahas semua hal tentang E-Commerce, mulai dari apa itu E-Commerce, manfaat, jenisnya, hingga cara memulainya. Selamat membaca!

Pengertian E-commerce

Arti eCommerce adalah Electronic Commerce, yang dalam bahasa Indonesia berarti Perdagangan Elektronik atau E-niaga. Meski begitu, pengertian E-commerce tidak hanya mencakup kegiatan belanja online, tapi juga berbagai aktivitas yang melibatkan transaksi online, seperti internet banking dan e-wallet, hingga pemesanan tiket, akomodasi, dan lelang online.

Nah, dengan semakin banyaknya peluang dan cara menghasilkan uang dari Internet, Anda pasti pernah ingin mencoba bisnis E-commerce juga. Siapa sih yang tidak ingin mendapatkan penghasilan tambahan tanpa harus mengeluarkan modal besar untuk membangun toko fisik?

Orang-orang yang ingin menjual barang atau jasa dan berbelanja cukup mengeklik layar gadget mereka, lalu cukup duduk manis dan menunggu barang sampai ke tangan. Contohnya ada raksasa retailer online seperti Amazon dan Walmart, yang menjadi beberapa contoh website E-Commerce yang paling populer saat ini.

Amazon sebagai contoh apa itu e-commerce

Manfaat E-Commerce bagi Bisnis dan Konsumen

Setelah tahu apa itu E-commerce, Anda mungkin bertanya-tanya mengapa bisnis ini bisa sangat populer. Berikut manfaat E-commerce yang paling dirasakan saat ini:

1. Pasar tersedia secara global

E-Commerce tidak terbatas ruang dan wilayah. Anda bisa menjual produk kepada siapa saja di seluruh dunia.

Pembeli bisa menemukan dan membeli produk dengan lebih mudah tanpa dibatasi lokasi, sementara bisnis mampu meningkatkan penjualan dan pendapatan jauh lebih tinggi dibanding melalui toko fisik konvensional.

Selain itu, penjual tidak perlu mendirikan atau membangun apa pun untuk membuat etalase toko. Kalau sudah memiliki item yang akan dijual, cukup onlinekan toko Anda untuk langsung memasarkannya di Internet.

2. Buka 24 jam, 7 hari seminggu, sepanjang tahun

Merujuk kembali ke bagian “Pengertian E-Commerce” di atas, semua aktivitas E-Commerce dilakukan secara online. Artinya, produk Anda selalu tersedia setiap saat secara online.

Bagi merchant, peluang penjualan tentu akan meningkat dan pendapatan tidak bergantung pada jam buka toko. Terlebih lagi, 87% pembeli kini lebih suka mencari produk secara online. Jadi, dengan toko online, Anda bisa memperkenalkan produk secara lebih luas.

Bagi pembeli, manfaat ini benar-benar memudahkan segalanya karena transaksi bisa dilakukan kapan saja cukup dengan beberapa sentuhan dari ujung jari mereka.

Selain itu, Anda akan sangat terbantu jika memasarkan produk secara global. Konsumen datang dari berbagai zona waktu, dan ketersediaan selama 24/7 jelas akan meminimalkan kemungkinan kehilangan konsumen.

Untuk meningkatkan kepuasan pengunjung, gunakan chatbot agar Anda bisa memberikan bantuan pelanggan setiap waktu, baik saat online maupun tidak.

3. Biaya jauh lebih murah

Selain tidak mengharuskan Anda mendirikan toko fisik, manfaat E-commerce lainnya adalah biaya yang diperlukan untuk membuat toko menjadi jauh lebih murah.

Pertama, Anda bisa membuat website toko online hanya dengan Rp127.101/bulan.

Kedua, Anda tidak perlu merogoh kocek untuk biaya gudang dan penyimpanan stok barang kalau memilih sistem dropship. Pemasok akan menyelesaikan pesanan konsumen untuk Anda.

Iklan online juga lebih murah dibanding media konvensional. Hebatnya lagi, kini ada banyak sekali platform iklan yang tersedia sehingga Anda bisa mengatur strategi marketing sesuai anggaran.

Terakhir, Anda tidak perlu menggaji karyawan karena bisnis bisa dikelola sendiri. Bahkan, jika ternyata membutuhkannya, Anda hanya perlu merekrut 1-2 staf karena fitur platform E-Commerce kini sudah semakin canggih, seperti yang akan dijelaskan pada poin setelah ini.

4. Manajemen menjadi lebih mudah

Dengan E-Commerce, bisnis bisa mengotomatiskan manajemen barang berkat tool dan layanan yang disediakan. Proses terkait stok produk dan operasional pun menjadi lebih simpel dan mudah.

Misalnya, Anda bisa menambah, mencatat, dan mengelola daftar produk dari satu halaman saja.

Detail pengiriman juga bisa ditangani tanpa perlu repot berkat tool penghitungan real-time. Anda tidak perlu lagi bolak-balik membuat dan mengedit informasi seputar ongkos kirim.

Tergantung pada platform yang Anda gunakan, toko online juga biasanya menawarkan berbagai opsi pembayaran. Konsumen bisa memilih metode yang menurut mereka lebih nyaman.

Salah satu platform yang memiliki semua fitur di atas adalah Zyro dari Hostinger.

eCommerce Zyro dari Hostinger

Dengan platform yang tepat, Anda bisa meningkatkan efisiensi dan produktivitas secara lebih mudah serta meminimalkan stres agar bisa lebih fokus mengembangkan bisnis.

Terlebih lagi, toko E-Commerce yang Anda buat bersama kami pasti akan memberikan user experience yang optimal ketika konsumen berbelanja secara online. Situs Anda akan memiliki performa yang andal, dengan sistem manajemen pesanan yang menjamin kecepatan pengiriman.

5. Informasi lebih jelas dan sesuai strategi

Dengan toko fisik, Anda hanya bisa menyajikan sedikit informasi mengenai setiap produk.

Tapi tidak begitu dengan toko E-Commerce. Anda bisa menambahkan deskripsi mendetail tentang produk atau layanan, serta menampilkan sebanyak mungkin varian sesuai keinginan. Anda bahkan bisa melengkapi informasi brand untuk meningkatkan kredibilitas dan membangun kepercayaan pelanggan.

Fitur minor ini mungkin tidak begitu signifikan, tapi cukup efektif untuk membantu meningkatkan penjualan. Menurut sebuah studi, konsumen yang cukup mengenal suatu produk akan merasa lebih puas dan percaya diri dengan keputusan mereka untuk membeli.

Jadi, salah satu manfaat E-commerce selanjutnya adalah Anda bisa menggunakan strategi penargetan prospek.

Karena toko online memungkinkan Anda mengumpulkan data konsumen, Anda bisa melakukan strategi pemasaran sesuai kebutuhan dengan memanfaatkan informasi pelanggan, seperti jenis kelamin, usia, atau riwayat pembelian.

Gunakan informasi ini untuk menyajikan konten yang berbeda-beda dan memberikan rekomendasi personal. Dengan memberikan sesuatu yang menarik perhatian, peluang konversi pun akan meningkat.

Jenis E-Commerce yang Ada Saat Ini

Setelah membahas apa itu E-Commerce dan manfaatnya, selanjutnya kami akan membahas jenis e-commerce berdasarkan model bisnisnya. Model bisnis e-commerce dikategorikan berdasarkan pihak yang terlibat dalam transaksi.

jenis e-commerce berdasarkan modelnya

Untuk lebih jelasnya, berikut 4 jenis e-commerce yang ada saat ini:

1. Business to Consumer (B2C)

Model bisnis B2C adalah sistem bisnis yang melibatkan perusahaan yang menjual produk dan layanan secara langsung kepada konsumen.

Dari perspektif konsumen, definisi B2C adalah ketika Anda membeli item dari website resmi suatu brand. Contohnya, Anda membeli ponsel dari apple.com, atau sepatu dari adidas.com.

B2C sebenarnya tidak hanya meliputi penjualan produk. Model bisnis ini juga bisa berbasis layanan atau jasa, seperti Lawn Guru dan Housecall Pro.

Dibandingkan dengan model lainnya, B2C adalah model yang paling umum dan mudah dipahami.

LawnGuru jenis e-Commerce business to consumer

2. Business to Business (B2B)

Model bisnis Business to Business atau B2B adalah ketika kedua pihak, baik penjual maupun pembeli, sama-sama merupakan entitas bisnis.

Biasanya, transaksi ini terjadi ketika suatu bisnis memerlukan bahan baku untuk produk akhir mereka.

Contoh B2B adalah perusahaan produsen kendaraan. Dalam prosesnya, penjual atau retailer kendaraan membeli komponen atau suku cadang dari produsen. Transaksi ini mungkin meliputi pembelian ban, selang karet, dan wiper kaca.

Oleh karena itu, model Business to Business seperti ini biasanya menghasilkan penjualan volume tinggi dan dalam frekuensi rutin.

Beberapa perusahaan yang menggunakan model bisnis B2B adalah Berlin Packaging, Flexfire LED, dan Bulk Bookstore.

Flexfire LED model bisnis e-commerce B2B

3. Consumer to Business (C2B)

Jenis e-commerce yang berikutnya adalah C2B, yaitu ketika penjual individu menjual barang dan layanan atau jasa kepada perusahaan. Metode ini memungkinkan pembeli menentukan harga sendiri.

Situs freelance dan program afiliasi dikategorikan sebagai model bisnis C2B. Contohnya adalah Upwork, Hubstaff Talent, dan Fiverr.

Upwork model bisnis e-commerce C2B

4. Consumer to Consumer (C2C)

Model bisnis C2C adalah ketika konsumen bertransaksi dengan sesama konsumen. Penjual individu akan menjual produknya kepada konsumen individu melalui Internet.

Proses ini biasanya melibatkan perantara marketplace online.

Dalam hal ini, situs B2C seperti eBay dan Craigslist bisa membantu seseorang menjual produk kepada orang lain jika sudah memiliki akun.

Craigslist model bisnis e-Commerce Consumer to Consumer

Kisah Inspiratif Bisnis yang Sukses dengan Ecommerce

Nah, Anda sekarang pasti sudah memiliki gambaran yang lebih jelas tentang apa itu e-commerce dan mulai terinspirasi untuk membangun usaha Anda sendiri.

Satu hal yang perlu diingat, 90% usaha di internet mengalami kegagalan dalam tiga bulan pertamanya. Meskipun persentase gagal ini sangat tinggi, masih ada 10% e-commerce yang berhasil bertahan, bahkan sukses hingga saat ini.

Anda pun bisa menjadi salah satunya, asalkan tidak gegabah mengambil langkah untuk memulai dan mengembangkannya.

Berikut tiga contoh e-commerce yang bisa Anda jadikan inspirasi untuk meraih sukses dalam usaha ini:

Zalora: Sukses berkat Cloud Hosting

Zalora sebagai contoh apa itu e-commerce

Zalora adalah retailer fashion dari Asia Tenggara. Di Australia, mereka dikenal dengan nama The Iconic.

Perusahaan yang menggunakan sistem B2C ini menawarkan berbagai jenis kategori produk, mulai dari aksesori wanita, perawatan pria, hingga fashion anak-anak.

Menurut Karthik Subramanian, mantan CTO Zalora, perusahaan ini memiliki target untuk menjadi platform fashion online yang bisa diakses kapan saja selama 24/7. Mereka juga ingin konsumen bisa berbelanja dengan nyaman.

Bertumpu pada target ini, Zalora menjanjikan beberapa keunggulan bisnis mereka kepada pelanggan.

Misalnya, Zalora menjanjikan pengiriman ekspres tak terbatas, 30 hari pengembalian gratis, dan pengiriman gratis untuk pembelian di atas $50. Hasilnya, konsumen pun sangat tertarik untuk belanja di website mereka.

Dalam sebuah wawancara, Subramanian mengungkapkan bahwa perusahaan ini berkembang rata-rata hingga 100% dalam 3-4 tahun pertamanya.

Untuk menangani banyaknya konsumen, Subramanian memutuskan untuk menghosting website E-Commerce mereka dengan cloud hosting. Bukan pilihan yang tepat untuk menggunakan server fisik karena akan menghambat alur konsumen yang dinamis.

Jika Anda berencana untuk memulai dari yang kecil hingga berhasil seperti Zalora, cobalah cloud hosting Indonesia dari Hostinger.

Layanan cloud hosting Hostinger

Alya Skin: Strategi Influencer Marketing

Alya Skin sebagai contoh apa itu e-commerce

Alya Skin adalah brand perawatan kulit dari Australia yang menawarkan produk vegan dan bebas dari aktivitas penyiksaan hewan. Pendirinya, Manny Barbas, melihat peluang untuk menjual masker clay berwarna merah muda, kemudian ia menghubungi partner-nya, James Hachem, untuk bekerja sama memulai usaha.

Pertanyaannya, bagaimana cara mereka memasarkan produk? Masker produksi mereka memang unik, tapi harus ada strategi yang tepat agar angka penjualan bisa terus naik.

Jawabannya adalah menggunakan influencer marketing.

Mereka memulai promosi dengan mengirimkan 1.000 produk kepada beberapa influencer yang diminta untuk memposting dan mengulasnya. Namun, influencer yang mereka ajak bekerja sama juga tidak sembarangan; hanya yang sesuai dengan demografis usia produk Alya Skin yang akan terpilih.

Barbas mengatakan bahwa perusahaan mereka berkembang pesat berkat strategi promosi produk melalui micro-influencer di seluruh Australia. Ia juga yakin bahwa audiens lebih percaya terhadap micro-influencer daripada orang-orang yang hanya memiliki banyak followers.

Bisnis mereka kemudian mengirimkan 400-500 produk per minggunya. Namun, mereka tidak pernah memaksa para influencer tersebut untuk memposting atau membahasnya. Mereka hanya berpesan, “Kalau Anda suka, silakan posting.”

Diamond Candles: Memanfaatkan Personalized Email

Diamond Candles sebagai contoh apa itu e-commerce

Diamond Candles adalah perusahaan yang menjual lilin aromaterapi. Mereka menerapkan sistem Business to Consumer untuk menjual produk. Selain menggunakan bahan ramah lingkungan, selling point mereka yang cukup unik adalah strategi ring reveal.

Di dalam setiap Ring Candle, terdapat cincin dan kupon yang memberikan kesempatan untuk memenangkan cincin lagi hingga senilai $5.000. Dari sini, konsumen bisa memilih gaya dan ukuran yang pas dengan mereka.

Sensasi yang terasa saat “ring reveal” (menemukan cincin) memberikan pengalaman tersendiri bagi konsumen.

Tapi sebenarnya, strategi yang membuat perusahaan ini berkembang cepat adalah pemasaran email mereka. Ada sekitar 2.000 alamat email yang menghubungi mereka setiap bulannya.

Diamond Candles pun memutuskan untuk fokus dan memprioritaskan strategi email marketing karena tingginya peluang dari area ini. Mereka menggunakan data yang dikumpulkan dari website, kemudian mengubahnya menjadi personalized email.

Tim mereka yakin bahwa email marketing adalah cara yang tepat untuk menjangkau pelanggan baru dan menarik kembali minat pengunjung lama.

Hasilnya, perusahaan ini berhasil menaikkan pendapatan hingga 160% dalam 8 bulan, dan mempersingkat waktu pembelian hingga 75%.

Jika ingin mencoba strategi ini, Anda bisa menggunakan layanan email marketing seperti MailChimp, Constant Contact, atau ConvertKit.

Cara Memulai Bisnis E-Commerce yang Sukses

Anda sudah mempelajari apa itu e-commerce, manfaat, dan jenis e-commerce beserta contohnya. Apabila ingin melangkah lebih serius, berikut cara memulai e-commerce yang bisa Anda coba:

Langkah 1: Tentukan area bisnis

Riset lebih dulu tentang jualan online yang laris atau jasa yang akan Anda jual. Sebaiknya pilihlah ide bisnis online yang sekiranya akan menghasilkan dalam jangka panjang dan mudah disesuaikan dengan kebutuhan di masa depan.

Kriteria barang dan layanan atau jasa yang akan cukup menjual adalah:

Mampu mengatasi masalah konsumen

Dengan mengatasi masalah konsumen, berarti produk atau layanan Anda mampu memenuhi kebutuhan mereka. Entah itu sesederhana jasa laundry bantal yang kotor, hingga mungkin alat bantu dengar dengan harga terjangkau.

Untuk memulai, amati aktivitas sehari-hari yang sekiranya orang-orang malas melakukannya. Tanyakan kepada teman atau keluarga, atau bisa juga melalui survei online.

Menyasar hobi tertentu

Menjual barang yang berhubungan dengan hobi berarti Anda menargetkan konsumen spesifik.

Konsumen yang menggemari hobi tertentu cenderung rela merogoh kocek lebih dalam karena adanya ikatan emosi dengan produk yang akan mereka beli.

Contohnya adalah Wilton, retailer pemasok bahan pembuatan kue yang menyediakan produk untuk berbagai kalangan. Kemudian ada Wayfair untuk dekorasi rumah, dan Bluemoon untuk pencinta scrapbook.

Untuk menemukan inspirasi, Anda bisa mencari tahu beberapa hobi yang cukup populer di kalangan masyarakat.

Wilton bahan pembuat kue B2C

Mengikuti atau menciptakan tren

Perkenalkan brand Anda sebagai pelopor dengan mengidentifikasi tren lebih awal. Jika caranya benar, Anda bisa menciptakan segmen sendiri di pasar dan menjadi lebih unggul dari pesaing.

Ikuti berbagai hal yang sedang populer di media sosial. Anda bisa mulai dengan melihat trending topic di Twitter, atau di Facebook.

Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendetail, Anda bisa menggunakan tool social listening seperti Google Trends, Trend Hunter, dan banyak lagi.

Homepage Google Trends

Menyalurkan keahlian Anda

Memiliki keahlian di bidang tertentu? Anda bisa menyulapnya menjadi mesin penghasil uang dari Internet.

Contohnya, Anda bisa menjual jasa desain grafis, penulis, fotografer, dan sebagainya. Anda juga bisa mendapatkan keuntungan dari passive income dengan menjual kursus online melalui Udemy atau Skillshare.

Contoh keren untuk ide ini adalah Aesphi, yang dibuat oleh Del Mauricio. Toko ini menawarkan berbagai jenis layanan digital, mulai dari desain logo hingga editing video.

Homepage Aesphi jenis e-commerce Consumer to Business

Langkah 2: Cari produsen untuk produk Anda

Kalau berjualan barang fisik, Anda harus mencari cara agar produksi barang yang Anda jual tetap berjalan.

Berikut beberapa metode paling umum yang bisa Anda coba:

Gunakan metode outsourcing dengan produsen

Tidak seperti UMKM, produsen mampu memproduksi barang secara massal. Akan jauh lebih efisien dan hemat biaya jika Anda mengambil barang dari produsen besar.

Apabila akan menggunakan sistem B2B, sebaiknya gunakan metode outsourcing dengan produsen. Selain hemat biaya, produsen juga bisa membantu Anda memenuhi permintaan konsumen.

Anda hanya perlu mencari produsen yang sesuai dengan kebutuhan dan mengajukan proposal produk.

Contohnya, ada Indie Source sebagai produsen pakaian, dan Ever Shiny sebagai produsen perhiasan.

Indie Source produsen pakaian

Sayangnya, produsen memiliki batas minimal pesanan untuk produk mereka. Jadi, Anda harus menyiapkan modal yang cukup besar untuk memulai bisnis.

Waktu produksi juga bisa lebih lama karena produsen harus melakukan beberapa proses, seperti membuat prototipe, sampel, melakukan penyempurnaan, hingga produksi.

Menjadi reseller dari pemasok grosir

Dengan metode ini, Anda membeli produk dalam jumlah besar dari pemasok lalu menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi. Untungnya, pemasok grosir biasanya memberikan diskon khusus bagi reseller.

Apabila ingin menjual beragam produk dari berbagai merek, metode ini akan sangat sesuai untuk Anda. Asalkan tahu pemasok yang bagus, Anda pun siap memulai perjalanan bisnis Anda.

Jika ingin menjadi reseller, cobalah mencari pemasok dari direktori seperti Sourcify, AliExpress, dan Oberlo.

Oberlo direktori supplier

Namun ingat, margin profit Anda tidak akan sama tingginya seperti kalau Anda memproduksi barang sendiri.

Selain itu, Anda harus benar-benar memperhatikan detail produk. Meskipun beberapa pemasok sekilas menyediakan barang yang sama, pasti ada saja sesuatu yang berbeda.

Gunakan sistem dropship

Kalau tidak memiliki ruang untuk stok barang jualan, Anda bisa mencoba metode dropship dan menjajal cara menjadi dropshipper.

Dengan metode ini, Anda pada dasarnya berperan sebagai perantara untuk menyalurkan barang dari pemasok kepada konsumen. Opsi ini sangat cocok jika Anda ingin lebih fokus pada marketing.

Ada banyak sekali direktori yang bisa Anda manfaatkan untuk menemukan pemasok. Beberapa yang paling populer adalah AliDropship, Salehoo, dan Alibaba.

Namun, sama halnya dengan menjadi reseller, Anda tidak bisa mengontrol kualitas barang. Jadi, cermatlah saat memilih partner untuk metode dropship.

Langkah 3: Mulai bangun bisnis Anda

Langkah ini akan melibatkan berbagai fitur perusahaan Anda, seperti branding, USP (unique selling proposition), dan struktur bisnis.

Buat nama brand

Menurut sebuah studi dari Nielsen, nama brand merupakan salah satu aset perusahaan yang paling berharga.

Nama ini merepresentasikan citra Anda dalam satu atau dua kata. Di samping itu, nama brand memberikan gambaran kepada konsumen mengenai brand personality Anda, memungkinkan mereka mengetahui apa yang ditawarkan oleh bisnis Anda.

Untuk memberikan kesan yang membekas dengan nama brand, cobalah menggunakan rima yang cantik dan berikan penekanan pada suku kata pertama.

Pilih nama brand yang simpel, dan cari artinya dalam bahasa lain untuk menghindari salah paham.

Terakhir, jangan lupa untuk mengecek legalitas nama yang Anda pilih. Pastikan nama tersebut belum dipatenkan oleh bisnis lain.

Tentukan struktur bisnis

Struktur bisnis berperan untuk menangani aspek-aspek hukum bisnis Anda, seperti perpajakan dan perlindungan aset apabila terjadi kebangkrutan atau gugatan.

Ada beberapa struktur bisnis yang bisa Anda pilih. Salah satu opsi yang paling umum untuk toko online adalah LLC (Limited Liability Company) atau PT (Perseroan Terbatas), perusahaan perseorangan, dan partnership atau kemitraan.

LLC merupakan struktur bisnis yang lebih formal, memberikan perlindungan yang cukup memadai karena secara hukum, perusahaan terpisah dari pemiliknya.

Perusahaan perseorangan adalah struktur yang lebih informal, tidak memberikan perlindungan karena bisnis dimiliki oleh individu sehingga urusan perpajakan merupakan kewajiban pemilik.

Mirip dengan perusahaan perseorangan, kemitraan juga merupakan struktur informal, tetapi pemiliknya tidak hanya satu orang dan tidak memiliki organisasi formal. Dalam struktur ini, semua pihak bertanggung jawab atas setiap tindakan yang mereka ambil untuk bisnis.

Jika Anda memiliki bisnis kecil dengan risiko rendah dan profit rendah, perusahaan perseorangan atau kemitraan akan menjadi opsi yang tepat.

Namun, jika memiliki customer base yang cukup besar dan ingin memanfaatkan berbagai opsi pajak yang ada, lindungi perusahaan Anda di bawah struktur LLC/PT.

Beli nama domain

Nama domain berperan sebagai alamat Anda di Internet. Pengunjung menggunakan alamat ini untuk mengunjungi toko Anda.

Seperti nama brand, nama domain harus mudah diingat dan diucapkan.

Beberapa contoh nama domain yang jelas dan mudah diucapkan adalah digitalbeauty.com, sethgodin.com, dan businessinsider.com.

Untuk menentukan nama domain yang mudah diingat, sebaiknya gunakan .com karena ekstensi domain ini adalah yang paling populer. Selain itu, jangan gunakan angka, tanda hubung, atau huruf dobel.

Cek domain Hostinger jika Anda ingin berlangganan ekstensi selain .com. Cek juga ketersediaannya sebelum didaftarkan.

Temukan unique selling proposition Anda

USP (Unique Selling Proposition) akan membedakan Anda dari kompetitor. Lebih pentingnya lagi, faktor ini menunjukkan bagaimana bisnis Anda akan memberikan manfaat kepada konsumen.

USP akan direfleksikan pada strategi branding dan marketing Anda.

Contohnya, Fenty Beauty milik Rihanna menjanjikan kepada pelanggan bahwa mereka akan menjadi brand yang sesuai untuk wanita dari berbagai kalangan. USP ini terdapat pada slogan mereka, “Beauty for All.”

Untuk menetapkan USP, cari tahu semua keunggulan dan manfaat bisnis Anda. Jangan pilih yang terlalu umum, dan temukan faktor-faktor apa saja yang mampu menyasar pasar yang kurang diperhatikan oleh bisnis lain.

Memilih Platform untuk Memulai Toko Online

Nah, sekarang Anda sudah tahu apa itu e-Commerce dan jenis-jenisnya, atau bahkan sudah yakin ingin memulai toko online Anda sendiri. Setelah persiapannya selesai, sekarang saatnya memilih platform yang tepat untuk menghosting bisnis e-Commerce Anda.

1. Cari Opsi yang Tersedia

Platform E-commerce merupakan tool online yang bisa digunakan oleh siapa saja untuk membuat dan menghosting toko online.

Platform ini menyediakan fitur-fitur penting untuk membantu bisnis Anda sukses secara online. Contohnya, platform dasar menyertakan fitur pelacakan kiriman, generator kode promo dan diskon, serta fungsi checkout yang mudah.

Anda mungkin sudah tahu bahwa ada banyak sekali opsi yang tersedia. Tenang, kami sudah merangkum beberapa yang terbaik untuk membantu Anda sukses secara online.

Berikut beberapa hosted platform untuk E-commerce:

  • Zyro — pilihan tepat bagi Anda yang ingin berhemat, tetapi membutuhkan platform yang menyertakan semua fitur penting E-Commerce.
  • Shopify — platform E-Commerce terpopuler sejauh ini karena sistemnya yang intuitif dan fitur penjualan multi-channel.
  • BigCommerce — menawarkan tarif kartu kredit PayPal yang lebih murah bagi pengguna, tergantung pada paket yang Anda pilih.

Jika lebih memilih untuk menggunakan self-hosted platform, berikut opsi terbaik menurut kami:

  • WooCommerce — plugin WordPress untuk mengubah website Anda menjadi toko online.
  • Magento — platform E-Commerce terbaik jika ingin mengembangkan dan mengelola bisnis sesuai kebutuhan.
  • PrestaShop — platform open-source khusus untuk membuat toko online.

2. Pertimbangkan Platform Pilihan Anda

  • Mudah bagi pemula. Cari platform yang tidak hanya mudah penyiapannya, tapi juga mudah didesain dan dikelola.
  • Aman. Untuk proses checkout & pembayaran yang aman, pilih platform yang mendukung sertifikat SSL.
  • SEO- dan mobile-friendly. Hampir semua pengguna ingin berbelanja tanpa masalah di ponsel atau perangkatnya.
  • Dukungan teknis. Baik Anda baru memulai maupun sudah lama di dunia E-Commerce, pilih platform yang memiliki tim dukungan khusus yang selalu siap menjawab pertanyaan Anda.
  • Lebih dari satu gateway pembayaran. Pastikan konsumen bisa membayar dengan mudah. Beberapa gateway pembayaran terpopuler meliputi PayPal, Stripe, dan Square.

3. Mulai Jual Produk dan Raih Sukses

Apabila baru memulai bisnis dan belum ingin menggunakan website, coba jual produk atau layanan Anda melalui marketplace e-Commerce. Dengan begitu, Anda tetap bisa berjualan kepada pengguna akhir dengan mudah.

Untuk langsung memulai, Anda bisa menggunakan marketplace seperti Amazon dan AliExpress. Cukup buat akun dan mulai tambahkan item Anda.

Apabila ingin menjangkau kalangan konsumen tertentu, gunakan marketplace niche online seperti BestBuy untuk barang elektronik, Wayfair untuk perlengkapan rumah, dan Zalando untuk barang fashion.

Sementara itu, untuk marketplace yang memungkinkan tawar-menawar, cobalah Tophatter, Tanga, dan banyak lagi.

Opsi lain jika ingin menjual jasa/layanan, cobalah marketplace untuk freelance seperti Fiverr dan Upwork.

Kesimpulan

Selesai! Sekarang, Anda sudah mendapatkan semua jawaban tentang apa itu E-Commerce dan cara memulai toko online. Setelah mengetahui seluk-beluknya, Anda hanya tinggal menentukan di segmen mana Anda akan mulai berjualan, mencari pemasok, kemudian memulai bisnis di internet.

Dengan membaca artikel ini, semoga Anda bisa memulai perjalanan bisnis online Anda dengan lancar dan sukses di Internet, serta mempertahankan keberhasilan bisnis untuk jangka waktu yang tidak terhingga.

Untuk mendukung bisnis Anda, pastikan memilih platform yang menyediakan semua fitur penting agar toko online Anda berhasil meraih sukses tidak hanya di awal saja. Tunggu apa lagi? Mulai sekarang juga!

Pertanyaan Umum seputar Apa Itu eCommerce

Bagaimana Cara Mulai Bisnis eCommerce dengan Cepat?

Pada sebagian besar platform E-Commerce, Anda hanya perlu mendaftar dengan alamat email asli dan membeli paket langganan sesuai kebutuhan. Kemudian, Anda bisa menyesuaikan landing page toko dan mencantumkan semua produk yang ingin dijual. Setelah membuat toko online, platform ini akan menangani proses transaksi untuk Anda.

Apa Skill yang Dibutuhkan untuk Bisnis eCommerce?

Beberapa skill yang diperlukan adalah membaca data analisis web untuk lebih memahami audiens Anda agar bisa membuat keputusan bisnis yang lebih baik. Pengetahuan tentang SEO, copywriting, dan fotografi produk juga sangat penting untuk meningkatkan campaign pemasaran. Meskipun tidak wajib, Anda mungkin juga perlu skill teknis dasar untuk mengelola toko.

Bisakah Ecommerce Menjadi Cara Mendapatkan Uang di Internet tanpa Website?

Ya, Anda bisa memanfaatkan akun media sosial untuk promosi produk dan meminta pelanggan membayar melalui transfer bank. Sayangnya, cara ini sangat tidak praktis dan kurang aman untuk bertransaksi. Sebaiknya cobalah cara lain apabila memungkinkan.

Author
Penulis

Faradilla A.

Faradilla, yang lebih akrab disapa Ninda, adalah Content Manager di Hostinger. Ia suka mengikuti tren seputar teknologi, digital marketing, dan belajar bahasa. Melalui tutorial Hostinger ini, Ninda ingin berbagi informasi dan membantu pembaca menyelesaikan masalah yang dialami.